[ Kamis, 12 November 2009 ]
JAKARTA – Rapat kerja perdana Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) M. Nuh dengan Komisi X DPR berlangsung seru. Meski dihuni banyak artis, Komisi X tak kalah kritis menyoroti berbagai kebijakan pendidikan. Mulai problem guru hingga ujian nasional (unas) yang masuk program 100 hari Depdiknas.

Dalam pemaparannya, Nuh menjelaskan, ada beberapa prioritas dalam program 100 hari Depdiknas. Yaitu, penyediaan 17.500 unit internet masal di sekolah, penguatan kemampuan kepala dan pengawas sekolah, dan beasiswa PTN untuk siswa SMA/SMK/SMA berprestasi tapi kurang mampu. Lalu pemberian insentif guru di daerah terpencil, penyusunan dan penyempurnaan restra 2010-2014, pengembangan budaya dan karakter bangsa, serta pengembangan entrepreneurship.

Cukup banyak anggota Komisi X yang mengapresiasi program 100 hari itu. Namun, beberapa di antaranya lebih banyak menyoroti unas. Termasuk, pengintegrasian dengan seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN). Anggota Komisi X Herlini Amran mengatakan, kebijakan unas dinilai membingungkan. ”Ujian nasional selama ini lebih banyak menuai masalah,” kata anggota Fraksi PKS itu.

Karena itu, dia meminta Mendiknas mengevaluasi kebijakan lama tersebut. Hal senada diungkapkan Eko Hendro Purnomo alias Eko Patrio dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN). Dia meminta pemerintah lebih concern dengan persoalan mendasar pendidikan. Misalnya, unas dan kurikulum kewirausahaan, serta RUU Perbukuan.

”Jangan sampai persoalan-persoalan itu justru diabaikan,” ujar Eko yang berpenampilan rapi mengenakan setelan kemeja putih dan celana hitam. Rambutnya juga ditata rapi, berbeda dengan penampilan saat melawak.

Angelina Sondakh, anggota Komisi X dari Partai Demokrat, menyorot soal guru. Dia setuju pemberian insentif terhadap para guru daerah terpencil. Namun, ada hal yang harus diperhatikan Depdiknas. Terutama, distribusi guru yang kurang merata dan pengangkatan guru bantu. Istri Adjie Massaid itu khawatir bila persoalan guru tidak bakal diselesaikan dalam waktu 100 hari.

Anggota Komisi X Tubagus Deddy Gumilar alias Miing mencairkan suasana rapat yang semula terlihat tegang dan monoton. Miing meminta Mendiknas memprioritaskan pendidikan kewirausahaan, terutama pada sekolah kejuruan. ”Karena saya ini lulusan sekolah kejuruan,” ujarnya disambut gelak tawa peserta rapat.

Beberapa kali Miing menggunakan istilah-istilah asing. Padahal, dalam rapat itu penggunaan bahasa asing diminta diminimalkan. Raker Mendiknas-Komisi X juga diramaikan artis Vena Melinda, Theresia Ebbena Ezeria Pardede alias Tere, Nurul Komar, Jamal Mirdad, dan Primus Yustisio.

Menanggapi berbagai kritik dan masukan, Nuh terlihat tenang. Dia mengatakan, pihaknya telah membuat semacam kontrak kerja bersama jajarannya agar semua program 100 hari bisa diselesaikan tepat waktu. Mantan Menkominfo itu mengatakan, filosofi program 100 hari adalah non-discriminative education atau pendidikan tanpa diskriminasi. Karena itu, amat penting pemberian insentif terhadap guru di daerah terpencil.

Soal pengintegrasian unas, Mendiknas menilai sudah saatnya pendidikan di Indonesia mulai SD hingga PT berkelanjutan. ”Jika ujian SD bisa dibuat masuk SMP, dan ujian SMP bisa buat masuk SMA, mengapa ujian SMA nggak bisa buat masuk PT? Inilah yang coba kami perbaiki dengan pengintegrasian unas dan SNMPTN,” ungkapnya. (kit/oki)

SUMBER: JAWA POS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here