Ditulis oleh Rachmat Aprianto
Kamis, 12 November 2009 11:00

Raker Perdana Mendiknas dan Komisi X

JAKARTA – Rapat perdana Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Moh Nuh bersama komisi X DPR-RI dimulai, kemarin. Komisi yang dihuni banyak artis itu umumnya menyorot ihwal masalah guru dan kebijakan baru Mendiknas soal ujian nasional (UN). Para artis yang kini duduk di parlemen itu tak kalah kritis menyoroti berbagai kebijakan pendidikan yang merupakan program 100 hari departemen di bawah pimpinan Nuh.

Dalam pemaparan progam 100 hari Depdiknas, Nuh menjelaskan, ada beberapa persoalan pendidikan yang menjadi prioritas utama. Yaitu, penyediaan internet massal atau 17.500 unit di sekolah, penguatan kemampuan kepala dan pengawas sekolah, beasiswa PTN untuk siswa SMA/SMK/SMA berprestasi tapi kurang mampu, pemberian insentif guru di daerah terpencil, penyusunan dan penyempurnaan restra 2010-1024, pengembangan budaya dan karakter bangsa pengembangan metodologi pembelajaran, dan pengembangan entrepreneurship.

Cukup banyak anggota komisi X yang mengapresiasi program 100 hari itu. Namun, beberapa diantaranya menyorot kebijakan baru Mendiknas. Yaitu, soal pengintegrasian UN dengan seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN). Anggota Komisi X Herlini Amran mengatakan, kebijakan UN dinilai membingungkan. Pelaksanaan ujian penentu kelulusan siswa itu dianggap tidak bisa mendongkrak prestasi anak didik. “Justru tambah merusak. Karena itu, saya sarankan jika model UN dibuat seperti ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN, red) yang soalnya dibuat provinsi,” jelasnya.

Persoalan UN, kata anggota fraksi PKS itu, bukan terkait pengintegrasian dengan SNMPTN. Melainkan, ujian tersebut selama ini dinilai menuai banyak masalah. Karena itu, komisi X meminta agar Mendiknas mengevaluasi kebijakan lama tersebut. Hal senada juga diungkapkan Eko Hendro Purnomo alias Eko Patrio dari fraksi Partai Amanah Nasional (PAN). Dia meminta agar pemerintah lebih konsens dengan persoalan mendasar pendidikan. Seperti, UN maupun kurikulum kewirausahaan, juga RUU perbukuan. “Jangan sampai persoalan-persoalan itu justru diabaikan,” ujar Eko.

Anggota komisi X dari partai Demokrat Angelina Sondakh menyorot soal guru. Dia setuju terkait pemberian insentif terhadap para guru daerah terpencil. Kendati demikian, ada hal yang harus diperhatikan Depdiknas. Terutama, masalah distribusi guru yang kurang merata dan masalah pengangkatan guru bantu. “Perhatian terhadap masalah guru harus diperluas. Terutama, terkait kesejahteraan dan kebutuhan guru,” ujarnya. Istri Adjie Massaid itu khawatir bila persoalan guru tidak bakal bisa diselesaikan dalam waktu 100 hari.

Anggota komisi X Tubagus Deddy Gumilar alias Miing mencairkan suasana rapat yang semula terlihat tegang dan monoton. Miing meminta agar Mendiknas memprioritaskan pendidikan kewirausahaan terutama pada sekolah kejuruan. “Karena saya ini lulusan sekolah kejuruan,” ujarnya disambut gelak tawa peserta rapat. Apalagi, beberapa kali Miing menggunakan istilah-istilah asing. Padahal, dalam rapat itu penggunaan bahasa asing diminta untuk diminimalkan guna mengoptimalkan penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Menanggapi berbagai kritik dan masukan, Mendiknas Moh Nuh terlihat tenang. Dia mengatakan, pihaknya telah membuat semacam kontrak kerja bersama jajarannya agar semua program 100 hari bisa diselesaikan tepat waktu. Nuh mengatakan filosofi dari program 100 hari adalah non discriminative education atau pendidikan tanpa diskriminasi. Karena itu, menurut dia, amat penting pemberian insentif terhadap guru di daerah terpencil. “Kami sudah mengumpulkan para kepala dinasnya dan anggaran sudah kami siapkan,” jelasnya.

Soal pengintegrasian UN, Mendiknas menilai sudah saatnya pendidikan di Indonesia mulai SD hingga PT berkelanjutan. “Jika ujian SD bisa dibuat masuk SMP, dan ujian SMP bisa buat masuk SMA, kenapa ujian SMA nggak bisa buat masuk PT” Nah inilah yang coba kami perbaiki dengan pengintegrasian unas dan SNMPTN,” ungkapnya.(kit)

SUMBER: SUMATERA EKSPRES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here