Selasa 08. of Desember 2009 12:49
Sumber: Koran Sinar Harapan

BANDUNG, ASIAN PARLIAMENTARY ASSEMBLY. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (tengah) berfoto bersama dengan Ketua DPR RI selaku Presiden Asian Parliamentary Assembly (APA) 2009, Marzuki Alie, Presiden pertama APA Haddad Adel dan para kepala delegasi peserta saat peresmian pembukaan APA ke-4 di Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika, Bandung, Jawa Barat, Selasa (8/12). Pertemuan Parlemen Se Asia keempat tersebut diikuti oleh 174 peserta dari 26 negara serta tiga organisasi parlemen peninjau dan akan berlangsung hingga 10 Desember mendatang. ANTARA/Widodo S. Jusuf

Bandung, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuka Sidang Umum ke-4 Konferensi Parlemen Asia (Asian Parliamentary Assembly/APA), Selasa pagi, di Gedung Merdeka, Bandung, Jawa Barat.

Presiden menandai pembukaan Sidang Umum ke-4 APA itu dengan memukul gong sebanyak tiga kali di hadapan sedikitnya 200 undangan.

Seusai acara pembukaan Presiden kemudian melakukan sesi foto dengan perwakilan parlemen negara-negara anggota APA.

Kehadiran Presiden pada acara itu didampingi oleh Ibu Ani Yudhoyono yang mengenakan kebaya biru dan Menko Kesra Agung Laksono yang juga mantan presiden APA dan Gubernur Jawa Barat.

Sebelum mengawali sambutannya dalam pembukaan Sidang Umum ke-4 APA yang diikuti oleh sedikitnya 174 perwakilan parlemen dari 26 negara, empat negara peninjau dan tiga organisasi parlemen di Asia itu Presiden sempat mengulas mengenai sejarah Gedung Merdeka.

Ia mengatakan, di gedung tersebut 54 tahun lalu berkumpul generasi pertama para pemimpin negara-negara Asia Afrika untuk menghasilkan Dasasila Bandung yang menjadi simbol berakhirnya kolonialisme.

Kepala Negara juga mengapresiasi tema Sidang Umum ke-4 APA yang bertajuk “Peranan Parlemen-Parlemen Asia dalam memperkuat Demokrasi, menuju perdamaian, kemakmuran dan keadilan di kawasan Asia”.

“Tema itu sesungguhnya sangat erat dengan tekad dan semangat bangsa Indonesia. Indonesia tampil sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, setelah melalui transisi yang fundamental hingga dapat mencapai tatanan kehidupan berbangsa yang demokratis,” ujarnya.

Presiden menegaskan bahwa Indonesia mempercayai sepenuhnya nilai-nilai demokrasi, nilai-nilai yang meniadakan semua bentuk diskriminasi, dan menjunjung tinggi hak-hak asasi serta kebebasan bagi seluruh manusia.

Sementara itu Ketua DPR Marzuki Alie berharap APA bisa turut menyelesaikan persoalan-persoalan besar dan kompleks serta turut membantu pemerintah masing-masing menyelesaikan sejumlah permasalahan antara lain kekerasan dan terorisme.

Ia juga mengatakan bahwa Sidang Umum ke-4 APA itu akan menghasilkan Deklarasi Bandung yang menjadi landasan parlemen di kawasan untuk bekerja sama menciptakan kemakmuran dan perdamaian di kawasan.

Delegasi Indonesia terdiri dari 12 orang yang terdiri dari dua pimpinan DPR, empat dari BKSAP DPR, enam orang panitia pelaksana.

Menurut Ketua Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP) DPR Hidayat Nurwahid, pemilihan Kota Bandung sebagai lokasi penyelenggaraan Sidang Umum ke-4 APA, 7-10 Desember, adalah untuk menyegarkan lagi semangat Bandung yang pernah menjadi lokasi Konferensi Asia Afrika.

Ia mengatakan, agenda sidang kali ini adalah pembangunan ekonomi dan sosial dengan pendekatan pelestarian lingkungan yang akan sejalan dengan Konferensi Perubahan Iklim di Kopenhagen, 7-18 Desember.

“Dari sidang umum ini akan lahir Deklarasi Bandung yang intinya mengupayakan agar negara-negara Asia bisa diperhitungkan di dunia internasional,” katanya.

APA memiliki 39 parlemen anggota, 18 parlemen peninjau dan tiga organisasi parlemen peninjau.

Sementara itu terkait dengan acara pembukaan Sidang Umum ke-4 APA empat ruas jalan utama di sekitar Gedung Merdeka ditutup.

Keempat ruas jalan yang ditutup yaitu Jl. Asia Afrika, Jl. Cikapundung Barat, Jl.Cikapundung Timur dan Jl. Braga.

Untuk mengantisipasi kemacetan, Satlantas Kota Bandung telah menyiagakan 300 personil.(ant)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here