FIKIH WANITA

Ibu Herlini yang nanda hormati, saya gadis/muslimah umur 20 tahun. Beberapa bulan yang lalu ada proposal nikah yang datang kepada saya. Orang tua saya menyerahkan masalah ini kepada saya. Setelah saya selidiki ternyata pengetahuan agamanya sangat minim sekali dan bahkan bisa dikatakan 0%, tetapi di bidang ekonominya dia mapan. Dan karena menurut sabda Rasul, seorang seorang wanita yang akan menikah dengan seorang laki-laki yang dijadika priorotas utama agama.
Oleh karena itu saya menolak proposal itu tetapi secara halus, tetapi saya merasa sangat tidak enak hati dengan kejadian itu. Dan alhamdulillah sekarang dia sudah menikah. Yang ingin saya tanyakan : Apakah seharusnya saya istikharah lebih dahulu sebelum memutuskannya, meskipun sudah jelas kalau dia tidak sekufu? Bagaimana batasan sekufu itu?

Terima kasih atas jawabannya dan semoga bisa jadi pengalaman dan merupakan tambahan ilmu buat saya untuk masa mendatang dalam menanggapi proposal nikah.

Hormat saya
Akhwat Jawa Timur.

Jawab
Nanda yang sholehah, sayang sekali nanda tidak menjelaskan bagaimana nanda menyelidiki pemuda tersebut. Apa maksud yang nanda sebutkan bahwa pengetahuan agamanya sangat minim (apakah pengetahuannya saja yang minim dan bagaimana dengan pengamalan agamanya? Sebab pengetahuan dan pengamalan adalah sesuatu yang berbeda.

Adakalanya orang yang pengetahuan agamanya sedikit atau minim, namun dalam pengamalan agamanya (khususnya ibadah fardhu) ia adalah orang yang taat menjalankannya, adakalanya orang yang pengetahuan agamanya luas namun dari sisi pengamalannya sangat minim (bahkan barangkali tidak mengamalkannya, hanya sekedar ilmu saja), ada juga orang yang pengetahuan agamanya minim dan pengamalannya juga nol. Bagaimana dengan pemuda yang pernah mengajukan proposal nikah tersebut ? ia dalam kategori yang mana?

Yang dimaksud sekufu (kafa’ah) dalam pernikahan adalah persesuaian keadaan antara si suami dengan si istri, sama kedudukannya di masyarakat.
Memang ada beberapa pandangan tentang kafa’ah menurut beberapa orang ulama diantara mereka berpendapat bahwa tidak ada kafa’ah dalam pernikahan.
Setiap muslim selama tidak melakukan zina boleh menikahi perempuan asal bukan pezina. Sementara itu ulama yang lain mengakui adanya kafa’ah, namun kafa’ah disini hanya bersifat istiqomah dan budi pekerti (akhlak), bukan kafa’ah dalam nasab, keturunan dan kekayaan.

Seorang laki-laki sholeh yang tidak bernasab boleh menikahi perempuan yang bernasab, pengusaha kecil boleh menikahi pengusaha besar, laki-laki miskin boleh menikahi perempuan kaya dst. Namun laki-laki yang buruk akhlaqnya maka ia tidak sekufu dengan perempuan yang sholehah, dengan beralasan QS al-Hujurat ayat 13, dalam ayat tersebut mengandung pernyataan bahwa manusia itu sama bentuk dan ciptaannya tidak ada yang lebih mulia kecuali karena ketakwaannya.

Mereka juga beralasan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Tirmizi, Rasulullah saw bersabda : Apabila datang kepadamu orang yang kamu sukai agama dan budi pekertinya maka kawinkanlah dia, kalau tidak nanti akan menimbulkan fitnah dan kerusakan di dunia, mereka (sahabat) menyela : Ya Rasulullah, apakah meskipun cacat. Rasulullah saw menjawab : Apabila datang kepadamu orang yang engkau ridhoi agama dan budi pekertinya maka nikahkanlah dia. Beliau mengucapkan demikian sampai tiga kali.

Ali bin Abi Tholib pernah ditanya tentang hukum kafa’ah dalam pernikahan, beliau menjawab : Manusia itu sekufu bagi yang lainnya, arabnya, ajamnya, quraysnya dan hasyiminya, apabila mereka telah beriman dan masuk Islam.
Sedangkan menurut beberapa kalangan ulama yang lain, kafaah itu ada dalam pernikahan seperti dalam hal nasab, merdeka, pekerjaan dan kekayaan dll. Ibnul Qayyim memberikan pendapatnya tentang kafa’ah: Hukum dari Rasulullah saw tentang kafa’ah maksudnya ialah agama dan kesempurnaan akhlak (budi pekerti), seorang muslimah jangan dinikahi dengan laki-laki kafir, perempuan yang tidak pernah berzina jangan dinikahkan dengan laki-laki jahat.

Quran dan Sunnah tidak menyebut kafa’ah selain agama, dan tidak menyinggung tentang nasab, perusahaan, kekayaan, pekerjaan, karena itu seorang budak boleh saja menikah dengan wanita bangsawan kaya, apabila si budak memang Islam dan baik akhlaknya. Hal ini berdasarkan QS al-Hujurat ayat 10 dan 13, QS. At-Taubah ayat 71, QS. Ali Imran ayat 195, sabda Rasulullah saw : Tidak ada kelebihan bagi arab atas orang ajam, tidak ada kelebihan orang ajam atas orang arab, tidak ada kelebihan bagi orang kulit putih atas orang kulit hitam dan orang yang berkulit hitam atas orang berkulit putih kecuali karena taqwanya. Manusia itu berasal dari adam dan adam berasal dari tanah.
Rasulullah saw pernah menikahi Zainab binti Jahsyi seorang bangsawan quraisy dengan Zaid bin Haritsah bekas budak Rasulullah. Beliau saw juga pernah menikahkan Bilal bin Rabah dengan saudara perempuan Abdurrahman bin Auf (seorang konglomerat)

Kafa’ah dalam syariat Islam tidaklah diharuskan, artinya Islam tidak menetapkan bahwa seorang laki-laki hanya boleh menikahi perempuan yang sama kedudukannya, seorang miskin tidak boleh menikahi orang kaya, orang Arab tidak boleh menikahi orang selain Arab, pedagang tidak boleh menikahi karyawan, sarjana tidak boleh menikahi orang yang tidak sarjana dst.

Pernah seorang laki-laki datang kepada Hasan bin Ali ra dan bertanya : Sejumlah laki-laki telah datang melamar anakku, mana laki-laki yang harus kuterima ? Ia menjawab : Nikahilah anakmu dengan orang yang bertakwa karena bila dia mencintainya, maka dia akan menghormatinya, bila dia membencinya, maka dia tidak akan berbuat zalim kepadanya.
Dapat kita fahami dengan adanya perbedaan pendapat mengenai kafa’ah – bagi yang mensyaratkan kafa’ah diluar agama dan akhlak- barangkali untuk kebaikan rumah tangga yang akan dibentuk, agar tidak terjadi ketimpangan dan kesenjangan antara suami dan istri yang tentu saja akan menjadi kendala untuk terbentuknya keluarga yang harmonis.

Dalam kasus nanda, ada baiknya nanda sholat istikhoroh dulu sebelum memutuskan suatu perkara, hal ini merupakan sunnah yang telah diajarkan Rasulullah. Jabir ra bercerita bahwa Rasulullah saw mengajarkan sholat sunnah Istikhoroh kepada kami dalam segala hal, sebagaimana beliau mengajarkan kepada kami sebuah surat dari al-Quran seraya berkata : Apabila salah seorang di antara kalian menghendaki sesuatu hal, maka hendaklah ia mengerjakan sholat dua rakaat, selain sholat fardhu……….

Ini merupakan pengalaman buat nanda, semoga Allah memberikan pasangan yang sholeh dan proposal nikahnya tidak nanda tolak lagi….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here