sumber: kompasiana.com

penulis: Abdi
|21 Maret 2010 | 17:42

Sudah sejak lama pelaksanaan UN (Ujian Nasional) memunculkan reaksi pro dan kontra di kalangan banyak pihak. Walaupun demikian ternyata pada hari Senin 22/3/2010, Kementerian Pendidikan Nasional tetap akan melaksanakan UN di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia.

Pada umumnya hal yang dijadikan alasan oleh mereka yang menolak pelaksanaan pelaksanaan UN adalah, UN dijadikan syarat kelulusan sehingga kelulusan hanya ditentukan oleh mata pelajaran yang dijadikan bahan ujian dalam UN. Dengan demikian pelajaran lain yang dipelajari di sekolah termasuk yang menyangkut akhlak dan moral seperti diabaikan.

Di DPR fraksi yang secara tegas tetap menolak pelaksanaan UN adalah Fraksi PKS dan Fraksi PDIP. Anggota Komisi X DPR dari Fraksi PKS, Herlini Amran mengatakan: “Dalam pembahasan dengan Menteri Pendidikan Nasional dan fraksi-fraksi di komisi X, kita memang telah menolak pelaksaaan ujian nasional sebagai standar kelulusan siswa.” (Jktpresscom:21/3/2010).

Menurut Herlini, dalam rapat kerja tersebut, Menteri Pendidikan menyatakan UN itu bukan standar kelulusan. Ada standar yang lain, seperti lulus pembelajaran selama tiga tahun, lulus ahlak, nilai-nilai di luar UN dan juga nilai UN itu sendiri. Jadi ada empat standar kelulusan dan enam fraksi setuju. Tapi UN bukan sebagai prasyarat kelulusan.

Dengan tetap dilaksanakannya UN pada hari Senin, 22/3/2010 secara serentak, tampaknya masih belum jelas, apakah UN akan dilaksanakan sesuai dengan apa yang telah dibahas Komisi X DPR dengan Mendiknas, atau masihkah UN seperti dulu, dijadikan syarat kelulusan.

Sampai saat ini Fraksi PKS dan Fraksi PDIP secara tegas tetap menolak pelaksanaan UN adalah Fraksi PKS dan Fraksi PDIP. Alasan penolakan tsb adalah UN mengabaikan penilaian akhlak dan moral. Lebih dari itu mereka menyebut UN itu “konyol.”

Bagi masyarakat sendiri tentunya yang disebut konyol itu adalah jika anak-anak mereka tidak lulus UN yang akibatnya dirasakan oleh mereka seperti musibah besar yang amat menyedihkan.

Oleh karena itu para siswa, orang tua, dan para guru harus mengerahkan segenap daya yang ada agar para siswa jangan sampai tidak lulus UN. Tentu perlu diusahakan agar usaha tsb dilakukan dengan doa dan ikhtiar yang wajar dan halal.

Semoga saja pelaksanaan UN besok tidak sampai menimbulkan usaha menghalalkan segala cara seperti tahun-tahun lalu. Misalnya, guru sekolah ‘menyuap’ pengawas luar untuk melonggarkan siswa yang sedang ujian agar bisa saling nyontek supaya nilainya bagus. Guru sekolah membantu memberi jawaban soal yang diuji kepada siswanya, dan guru membacakan kunci jawaban pada siswa.

Salam sukses terus

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here