Yayat R Cipasang – Jurnalparlemen.com
Rabu, 31/03/2010 | 13:00

Senayan – Mengamati film bukan berarti harus menonton di bioskop atau memutar cakram padat secara khusus. Cara yang dilakukan anggota Komisi X DPR Herlini Amran, menjadi alternatif di tengah kesibukannya sebagai anggota Dewan.

Anggota Fraksi PKS dari daerah pemilihan Kepulauan Riau ini mengaku tidak memiliki acara khusus untuk mengamati film yang kini beredar di masyarakat. Herlini cukup menyimak informasi, analisis pakar dan resensi film yang bertebaran di media massa.

“Saya secara spesifik tidak menonton film sampai tuntas. Cukup saya tahu alurnya dan menyimak informasi dan resensi di media,” kata Herlini kepada Jurnalparlemen.com, Rabu (31/3).

Saat ditanya tentang kecenderungan film nasional sekarang, Herlini mengkhawatirkan limpahan film-film bergenre horor dan seks yang menghiasi bioskop-bioskop. Ia dengan fasih menyebutkan judul-judulnya seperti Diperkosa Setan, Susuk Pocong, Paku Kuntilanak dan Suster Keramas.

“Masyarakat akan mengalami kemunduran moral dan intelektual bila film seperti itu menguasai pasar,” ujar Herlini.

Herlini menilai, sejauh ini perkembangan film nasional cukup menjanjikan. Sejumlah film berkualitas lahir dan mendapat penghargaan di dunia internasional. Namun ia khawatir, bila film horor dan seks menguasai pasar keadaan perfilman nasional seperti pada tahun 90-an bakal terjadi.

“Saya khawatir perfilman nasional kembali mati suri,” ujarnya.

Herlini mengingatkan para sineas untuk berintrospeksi di Hari Perfilman Nasional diperingati setiap 30 Maret ini. Pemerintah juga, lanjut Herlini, harus memberikan penghargaan kepada film yang berkualitas dan memberikan hukuman kepada mereka yang melanggar UU Perfilman.(yat/yat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here