sumber:waspada online.com
Friday, 02 April 2010 14:40

Warta – Citizen Journalism
SALWA AULIA

Perkembangan film Indonesia telah bangkit dari mati suri. Secara teknis sinematografi film yang dihasilkan jauh lebih baik dari era-era sebelumnya.

Cengkraman film-film asing pun terhadap pasar film dalam negri mulai mengendur dengan banyaknya film-film buatan anak negri yang beredar di bioskop dan aspek kuantitas meningkat.

Hanya saja secara kualitas, Film belum menjadi media pembelajaran dan motivator bagi masyarakat. Begitu pernyataan Herlini Amran menanggapi hari Film Nasional yang dirayakan setiap tanggal 30 Maret.

Anggota Dewan yang membidang masalah perfilm-an di Komisi X ini menyesalkan masih banyaknya film yang bergenre horor dan sex yang muatan edukasinya masih minim. Contohnya Di Perkosa Syetan, Hantu Pocong Perawan, Suster Keramas, dll. Walau tidak bisa dinafikan beberapa film yang diproduksi sudah berkualitas, sebut saja; Laskar Pelangi, Ketika Cinta Bertasbih, Emak Pengen Naik Haji dan beberapa judul lainnya.

Herlini berharap di moment ulang tahun Hari Film Nasional ini, sineas-sineas kita lebih banyak menghasilkan film-film yang tidak sekedar menjadi tontonan semata akan tetapi sekaligus bisa menjadi tuntunan.

Masyarakat yang beradab salah satunya bisa tercipta melalui film yang bermutu. Tentunya film yang mengangkat karakter bangsa yang bermartabat dan berbudaya.

Menyoal Lembaga Sensor Film, Politisi dari Dapil Kepri ini berharap peranan Lembaga Sensor Film harus lebih dioptimalkan. Sanksi dan hukuman diberikan pada pihak yang memproduksi film yang bertentangan dengan Undang-Undang dan reward (penghargaan) bagi para sineas yang memproduksi film-film yang mendidik.

Apalagi UU Perfilman sudah ada, tinggal bagaimana membumikan Undang-Undang tersebut sehingga perfilm-an Indonesia bisa menjadi raja di negri sendiri dan tentunya bisa go international juga.
(dat01/i)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here