sumber: bataviase.com
23 Jul 2010

* Headline
* Republika

Oleh Rahmat Santosa Basarah

Senyum itu indah dan anak-anak sa* ngat menyukainya. Mantan ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Seto Mulyadi mengajak orang tua tersenyum dalam menghadapi anak-anaknya. Cara ini penting dilakukan untuk mengubah paradigma pendidikan yang selama ini identik dengan kekerasan.

“Paradigma mendidik tidak identik dengan kekerasan seperti mencubit, menjewer, atau memukul. Mari tersenyum menghadapi anak,” kata Seto pada kegiatan “One Day For Children”, yang merupakan rangkaian peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2010 di Jakarta, Kamis (22/7).

Puncak peringatan HAN 2010 dilaksanakan hari ini di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Kegiatan HAN yang bertemakan “Dengan Senyum Ceria, Kutatap Dunia” tersebut direncanakan dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Psikolog yang akrab disapa Kak Seto ini berpendapat, mendidik dengan kekerasan dengan dalih untuk menegakkan disiplin, bukanlah tindakan tepat. Sebab, cara itu hanya mewariskan kekerasan dan dendam kepada anak.

Komnas PA mencatat kekerasan terhadap anak dari tahun ke tahun terus meningkat. Pada 2008, terjadi 1.626 kasus. Jumlah ini meningkat menjadi 1.998 pada 2009. Tahun 2010 ini, kekerasan diprediksi akan kembali naik, karena berdasarkan data hingga Mei 2010, jumlah kekerasan sudah mencapai 1.826 kasus. Kekerasan terhadap anakberupa kekerasan fisik, psikis, dan seksual. Kekerasan terhadap anak tidak hanya terjadi di rumah-rumah, tetapi juga di jalan-jalan. Komnas PA juga mencatat tingginya ancaman dan keselamatan anak-anak yang selama ini hidup di jalanan. Mereka menjadi korban pemerasan, eksploitasi, pelecehan seksual, hingga kejahatan dan kriminalitas.

Dalam rangkaian peringatan HAN 2010, kemarin, sekitar 1.500 anak melakukan kegiatan belajar dan bermain di halaman parkir Kementerian Sosial. Kegiatan tersebut diisi parade anak, panggung ceria, panggung kreasi dan operet anak, serta kunjungan ke kantor Menteri Sosial.

Anak-anak yang berpartisipasi terdiri atas anak sekolah, anak rumah singgah, anak yatim piatu di panti asuhan, anak dari keluarga prasejahtera, serta anak-anak di lingkungan UPT. “Kita kenaikan kesehatan, polisi, pemadam kebakaran. Ini untuk menggugah mereka,” kata Dirjen Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Kemensos, Makmur Sunusi.

Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Herlini Amran memandang perlu memaksimalkan lembaga-lembaga supporting, seperti Komisi Nasional Perlindungan Anak atau Direktorat Anak yang bernaung pada kementerian, untuk memberikan program perlindungan terhadap masa depan anak Indonesia. “Pada saat ini jutaan anak Indonesia masih terpuruk dalam ketidakberdayaan. Bahkan, sebagian besar masih berada di pinggir jalan menjadi pengemis, pengamen, dan pencopet.” kata anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPR itu.

Dia memandang perlu perlindungan terhadap anak yang tidak hanya fisik, tetapi juga perlindungan terhadap intelektual dan moral mereka. Masih banyak anak yang tidak memiliki hak pendidikan, karena masih ada diskri-minasi dan pembatasan bagi anak-anak miskin.

Sementara itu, Pejabat Direktur Nasional World Vision Indonesia, Amelia Merrick, berharap semua komponen menjadikan Hari Anak Nasional sebagai momentum untuk mengingatkan pentingnya pemenuhan hak anak-anak Indonesia akan pendidikan, kesehatan, gizi, pengasuhan, dan perlindungan anak.

Menurut dia, peringatan HAN 2010 harus dimaknai sebagai tekad seluruh bangsa Indonesia secara nyata mengupayakan perlindungan dan pemenuhan hak-hak anak untuk tumbuh dan berkembang sebagai insani yang utuh.

Koordinator Jaringan Peduli Perempuan dan Anak (JPPA) Jawa Tengah, Prof Agnes Widanti, menilai, pe-nanganan permasalahan anak selama ini masih sebatas formalitas.

Penanganan permasalahan anak masih dilakukan sebatas untuk memenuhi peraturan yang telah ada.

Permasalahan yang dihadapi anak-anak hanya diperhatikan saat ada momentum tertentu, seperti Hari Anak Nasional. Namun, kata dia, permasalahan yang dihadapi anak-anak sehari-hari tidak pernah diperhatikan, padahal anak-anak tidak hanya menghadapi permasalahan saat momentum tertentu, tetapi dihadapi setiap hari.

Penyebab tidak optimalnya perhatian terhadap anak akibat masalah anak dianggap kecil. Namun demikian, seperti pesan Kak Seto, ter-senyumlah pada anak-anak, hindari kekerasan! antara/-cl3 ed harun husein

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here