ANALISA SOSIAL

Membutuhkan perhatian tidak hanya orang tua, tetapi lingkungan yang kondusif juga akan membentuk pribadi pahlawan yang menawan.

Oleh: Herlini Amran, anggota Komisi VIII DPR dari F-PKS Dapil Kepri

Senayan – Dalam benak kehidupannya, seorang pahlawan senantiasa menyerahkan jiwa raganya demi bangsa. Tidak peduli seberapa banyak harta, jiwa, bahkan nyawa direlakan bagi kepentingan negara. Pengorbanan merupakan kata kunci. Pahlawan sebenarnya adalah ia yang melakukan itu semua.

Seorang suami adalah pahlawan bagi istri dan anak-anaknya. Begitu pun seorang istri merupakan pahlawan bagi suami dan anak-anaknya, guru seorang pahlawan yang dikenal tanpa tanda jasa, musisi yang mengabdikan diri. Apapun profesi yang kita jalani, bila melahirkan karya kepahlawanan ia pantas diberi gelar pahlawan.

Sebut saja, Jenderal Sudirman. Perjalanan panjang seorang pejuang yang tidak lagi memikirkan tentang dirinya, walau penyakit TBC mendera. Ia berbuat dan berkata hanya untuk rakyat serta bangsa tercinta. Kisah heroik juga ditunjukan
Bung Tomo, meski harus menunggu untuk gelar pahlawan disematkan, tetapi ia sudah menjelma menjadi seorang pahlawan. Cukup kesaksian rakyat saja atas yang mengukuhkan Bung Tomo sebagai seorang pejuang.

Pahlawan tidak hanya seorang yang menyandang senjata. Dari kalangan sipil tercatat juga sebagai pahlawan. Contohnya Sang Pencerah Ahmad Dahlan menjadi pahlawan di bidang penyebaran pemikiran dan dakwah Islam. Berjuang tapi dihapus dalam catatan sejarah Orde Baru, itulah yang dialami Tan Malaka.

Walau begitu pemikiran Tan Malaka tidak pernah bisa dihapus. Soekarno, Adam Malik dan para pahlawan lainnya yang tercatat atau pun tidak sebagai pahlawan tentunya sudah menorehkan sejarah yang berkesan bagi bangsa ini.

Pahlawan wanita juga mewarnai sejarah kita. Walau masih minim secara kuantitas, tetapi mereka menjadi kontributor bagi kemerdekaan. Sebut saja Raden Ajeng Kartini, Dewi Sartika, atau Tjut Nyak Dien, di balik kelembutan mereka menyimpan bara semangat yang tak pernah mati. Semangat melepaskan diri dari belenggu penjajahan, belenggu pemikiran dan menuju kebebasan.

Miskin Figur Kepahlawanan

Pada 65 tahun lalu para pejuang Indonesia bertempur menyerahkan jiwanya dalam melawan Inggris di Surabaya. Peristiwa 10 November itu dikenal sebagai Hari Pahlawan tapi hanya dimaknai secara seremonial. Tak ada makna mendalam. Tidak ada ruh dan semangat menggelora, laiknya pahlawan angkatan 45.

Semangat untuk memberi kebaikan bagi bangsa ini hanya kerlip lilin. Bukan api merah menyala yang membakar kemalasan dan keengganan untuk bangkit dari keterpurukan. Atau kepalan tangan yang bertekad untuk mendobrak semua keterbatasan dan berseru bahwa bangsa ini bisa kembali disegani di mata dunia.

Hari Pahlawan bisa dijadikan momentum untuk melahirkan pahlawan-pahlawan baru. Momentum untuk membenahi bangsa ini. Sehingga kita bisa membangun kerangka sejarah yang lebih baik untuk dikenang anak cucu. Kepahlawanan tidak berhenti di tanggal 10 November.

Waktu masih terbentang dan membutuhkan figur pahlawan-pahlawan. Menanti pahlawan baru bagi perubahan negeri ini yang tidak haus kekuasaan. Tidak rakus terhadap kekayaan dan tidak gila jabatan. Pahlawan yang dengan ketulusannya membawa negeri ini menuju perbaikan.

Dalam situasi keprihatianan, saat bencana melanda negeri ini kita butuh situasi saat ini menuntut datangnya sang pahlawan untuk bisa mengurai benang kusut yang melilit negeri ini. Tidak hanya mengurai persoalan akan tetapi memberikan solusi.

Setiap masa ada pahlawannya. Dan saya yakin, akan muncul pahlawan-pahlawan baru bagi negeri ini. Pahlawan yang lahir dari rahim-rahim perempuan yang berkualitas. Perempuan yang mempunyai nurani ikhlas mendidik anak-anaknya. Perempuan yang menyerahkan segenap jiwa dan raganya bagi pertumbuhan dan perkembangan pahlawan kecilnya, yang kelak menjadi dewasa dan mengabdi pada bangsanya.

Meski atribut pahlawan hanyalah artifisial belaka saat ini. Tetapi kita butuh pahlawan baru. Nama yang mengabadi dalam memberikan kebaikan-kebaikan. Menyemai benih-benih pahlawan bisa di mulai dari saat ini. Pembinaan anak usia dini akan membentuk remaja yang bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri dan bangsanya.

Tentunya akan memakan waktu yang cukup lama. Karena membentuk pahlawan bukan seperti memasak mi instan. Butuh kesabaran dengan ramuan-ramuan pembinaan moral dan akhlak yang berkesinambungan. Ini membutuhkan perhatian tidak hanya orang tua, tetapi lingkungan yang kondusif juga akan membentuk pribadi pahlawan yang menawan.

Political will dari para pemangku kebijakan tentunya juga diharapkan. Regulasi yang mendukung akan lahirnya generasi-generasi pahlawan. Contohnya UU Kepemudaan yang sejatinya bisa mewadahi potensi pemuda yang sangat beragam dengan ide dan gagasan bagi pengembangan kepemudaan yang lebih baik, dinamis dan lebih kontributif.

UU ini juga diharapkan bisa meningkatkan pemberdayaan pemuda di negeri ini. Dan negara berkewajiban memberikan perlindungan dan menempatkan posisi strategis untuk pemuda dalam pembangunan nasional dan pembangunan daerah baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota.

Vitalitas dan idealisme pemuda sebagai cikal bakal pahlawan tidak diragukan lagi. Walau pun rentan terhadap berbagai persoalan sosial, politik, hukum dan ekonomi mereka merupakan komunitas strategis bagi perbaikan negeri ini. Garda terdepan bagi Indonesia yang terkungkung dengan belitan persoalan.

Tak mudah memang memproduksi seorang pahlawan. Tetapi tidak ada yang tidak mungkin, sejauh ada usaha yang maksimal. Tentunya ketika kita meninggalkan dunia ini, ada torehan sejarah yang di tuliskan oleh pahlawan yang kita bina. Penantian akan lahirnya pahlawan baru pun tidak sia-sia. Dan Pahlawan, abadilah namamu sepanjang masa.
end

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here