Miftakhulhuda
Empat bulan lalu, Miftakhulhuda berpisah dari ibunya. Saat itu mereka ditangkap Imigrasi Malaysia. Setelah ditahan di sel yang berbeda, keduanya hilang kontak. Kini, Miftakhulhuda tinggal di penampunang TKI di Batu 8, setelah dirinya dideportasi. Sedangkan nasib sang ibu, Miftakhulhuda tak tahu. Ia pun bertekat akan mencari ibunya sampai dapat.
”Ibu,bapak, dimana kalian sekarang…,” ujar Miftakhulhuda, pertama kali saat mau menceritakan kisahnya kepada Batam Pos, di penampungan TKI di Batu 8, kemarin. Miftakhulhuda merupakan salah satu korban yang harus terpisah dari keluarganya karena tidak memiliki dokumen lengkap.
Dengan mengenakan celana pendek berwaran hijau, anak dari Asikak dan Jatima itu terpisah ketika kepolisian dan pihak imigrasi Malaysia menangkap mereka sekeluarga di Kawasan Pineng. Dalam pemeriksaan, ibunya dan Miftakhulhuda harus mendekam di penjara. Ibunya tidak punya paspor, sedangkan Miftakhulhuda dalam dokumennya dinyatakan sebagai perempuan hingga dinyatakan ilegal oleh pihak imigrasi Malaysia.
Miftakhulhuda bersama ibunya ditahan di tempat berbeda hingga hilang komunikasi. Asikak, bapaknya tidak pernah membesuk selama empat bulan ia di penjara. ”Benar-benar hilang komunikasi, ” ujarnya.
Dikatakan Huda, panggilannya, setelah bebas dari penjara, ia dimasukkan ke Kamp Juru Pulau Pineng, sebuah penampungan warga asing bermasalah. Miftakhulhuda mengaku selalu berusaha menghubungi kedua ponsel orangtuanya namun sudah tidak aktif lagi, hingga akhirnya memutuskan menanyakan status kedua orangtuanya serta saudaranya ke pihak imigrasi.
Petugas imigrasi Malaysia dalam penjelasannya, kata Miftakhulhuda, ibunya sudah keluar penjara dan telah kembali ke Indonesia. Demikian juga bapak serta keluarganya lain. “Saya tidak tahu apa mereka berbohong,” katanya lemah.
Mendengar keluarganya telah kembali ke Indonesia, Miftakhulhuda berusaha mencari keluarganya di Indonesia dengan pertolongan Ahma Suudi, 19, temannya di kamp, yang mengaku kampungnya dekat dengan kampung orang tuanya di Kendal, Jawa Tengah. Ahma juga saat ini tinggal di penampungan TKI di Batu 8. ”Saya akan pergi bersama Ahma, nanti kami akan cari keluargaku bersama-sama,” katanya.
Tapi yang merisaukan. Saat ditanya alamatnya di Kendal, Miftakhulhuda tidak tahu karena alamat itu didapat sewaktu orangtuanya bercerita asal kampung bapaknya. Miftakhulhuda sudah lahir di Malaysia, tapi masih warga Indonesia. Menurut Huda, ia pernah sekolah sampai kelas tiga SD di Sekolah Kebangsaan Sebrang Jaya Malaysia.Rinto
Sumber :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here