TKI: Beginilah kondisi penampungan TKI di Jalan Transito Tanjungpinang. Sebagian TKI harus rela tidur di lantai karena tak kebagian tempat tidur.

Wakil Rakyat Berkunjung ke Penampungan TKI Kondisi penampungan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Tanjungpinang terus menjadi sorotan tajam. Penampungan pahlawan devisa ini dinilai tak manusiawi. Jauh lebih buruk dibandingkan penampungan para imigran asing yang datang ke wilayah Kepri. Ketua Fraksi PKS DPRD Tanjungpinang, Muhammad Arif, mengatakan penampungan TKI di Jalan Transito Tanjungpinang saat ini sungguh tidak layak lagi. Sarana dan prasarana yang ada di penampungan serba kekurangan. Tidur berdesak-desakan tanpa menggunakan kasur. Bau dari kamar dan toilet menyeruak ke mana-mana. “Mengapa penampungan TKI lebih tidak terurus dengan baik dari pemerintah. Mengapa penampungan orang asing seperti Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Tanjungpinang mendapatkan fasilitas yang baik. Padahal TKI adalah warga kita sendiri. Mengapa dibiarkan dan diperlakukan seperti itu,” kata Arif kepada Tanjungpinang Pos, Senin (1/8) lalu. Arif memang baru pertama berkunjung ke penampungan TKI bersama dengan Herlini Amran yang juga Anggota Komisi VIII DPR RI dari daerah pemilihan Kepulauan Riau (Kepri). Arif tidak menyangka betapa perihnya penderitaan yang diterima oleh para TKI. Mestinya sampai di Indonesia, mereka diperlakukan dengan baik-baik bukan malah ditampung seperti penjara lagi. “Saya sedih ada anak-anak dan ibu hamil ditempatkan di ruang yang sangat tidak cocok. Mestinya ibu yang hamil dan anak-anak dipisahkan dari penampungan agar pertumbuhannya lebih baik lagi,” kata Arif. Arif meminta juga kepedulian Pemerintah Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepri termasuk pemerintah pusat untuk memberikan kenyamanan bagi TKI yang ada di penampungan. Pemerintah pusat juga didesak agar rumah penampungan yang layak segera dibangun. “Kita juga mempertanyakan ke pemerintah pusat sudah berapa banyak dana APBN untuk membangun rumah penampungan yang layak. Pemerintah Kota Tanjungpinang dan DPRD akan menyetujui dan Pemko sudah siap menyediakan lahan,” tegas Arif. Sebelumnya, Anggota DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) Kepulauan Riau Herlini Amran mendesak pemerintah untuk serius menangani TKI yang sedang bermasalah. Banyak TKI yang tidak mendapatkan hak-haknya padahal mereka sudah bekerja cukup lama. Akibat tidak optimalnya peran pemerintah, para nasib para TKI menjadi terkatung-katung. Menurut Herlini, saat reses mengunjungi lokasi penampungan TKI, Minggu (31/7) lalu, banyak keluhan yang didengarnya dari TKI. Menurut pengakuan para TKI, gaji mereka banyak yang tidak dibayarkan oleh majikannya padahal mereka sudah cukup lama bekerja bahkan ada yang sudah 1,5 tahun, tapi gajinya tidak dibayarkan. Hal yang menyedihkan lagi, mereka diperlakukan tidak manusiawi saat ditempatkan di penampungan di Malaysia. Hal yang memprihatinkan, cerita Herlini, terdapat seorang anak bernama Miftahul Huda (14) yang diperlakukan seperti TKI dewasa. Miftah bersama orang tuanya sebelum dideportasi dari Malaysia ia tinggal di Kawasan Pineng Jalanpa Kuro 2 No.56 Malaysia dan masih bersekolah di Sekolah Kebangsaan SKSJ yang duduk di Kelas 2-4. Praktis selama di Penampungan ia tidak bisa sekolah lagi. Saat ini ia terpisah dari kedua orang tuanya, yang ia tidak tahu di mana orang tuanya. Menurut penuturan Miftahul Huda yang dipanggil Miftah, ibunya sudah dibebaskan dari penjara di Malaysia. Tapi tidak tahu di mana keberadaannya. Sedangkan orang tua laki-lakinya Asikan, berdasarkan informasi sudah pulang ke Indonesia.(ass)sumber : tanjungpinangpos.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here